Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Februari 2011

Dakwah Lewat Musik & Lagu, Mengapa Tidak!?



Berkreasi (Dakwah) Lewat Musik & Lagu, Mengapa Tidak!?
Short Opinion by : ~R@iney Dive~


Bismillaahirrohmaanirrohiim ...

Allah swt berfirman : "Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Maa'idah 8).

Apakah dapat dikatakan adil (bijaksana) jika kita membenci perbuatan maksiat yang dilakukan oleh orang-orang Kafir melalui keberadaan musik dan lagu, lantas kita langsung memukul rata dengan mengharamkan musik dan lagunya!? Padahal musik dan lagu itu merupakan suatu bentuk yang abstrak lagi tidak memiliki akal, dan akan mengikuti kemana saja keinginan orang-orang yang memainkannya.

Masya Allah, jangankan kepada suatu bentuk yang abstrak lagi tidak memiliki akal, masalahnya, apakah Islam mengajarkan umatnya untuk me-najis-kan atau meng-haramkan orangtua--saudara--kerabat--atau teman-temannya yang muslim lantaran mereka melakukan berbagai bentuk maksiat!? Tentu saja tidak boleh sebab yang haram itu adalah perbuatan mereka, dan selama mereka masih hidup serta memiliki akal, sungguh tugas orang-orang beriman yang ada bersama mereka adalah menasehati dan mengajak mereka kembali kepada hidayah Allah dengan cara yang baik dan benar.

Allah swt berfirman : “Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab 24).

Jadi menurut kami, apapun jenis musik dan lagu yang baik dan enak di dengar, tetapi bukan untuk melalaikan diri dari mengingat Allah, atau bukan bertujuan syirik, insya Allah mereka tidak haram. Sebab yang haram itu adalah apabila musik di jadikan sebagai ladang maksiat, seperti; kata-kata (lirik) yang mengikutinya--kegiatan (assesories) haram yang menyertainya--budaya sesat yang senantiasa digunakan oleh Kafir--serta beragam bentuk maksiat lain yang tentu saja dilaknat oleh Allah swt...

Sungguh di sayangkan apabila dalam perkara furu' seperti ini, kita langsung begitu saja mengharamkan musik dan lagu. Sementara salah satu dari bentuk kesenian ini, dijadikan sebagai media Ghazwul Fikr (perang pemikiran) oleh orang-orang Kafir, yang mereka kreasikan lewat skill bermusik. Padahal kita sendiri juga mengimani, bahwa talenta—skill—atau kemampuan bermusik ini pasti bersumber dari Allah swt, dan menitipkannya kepada siapapun manusia yang di kehendaki-Nya.

Allah swt berfirman : “Jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. “ (QS. An-Nahl 126).

Dengan demikian, insya Allah akan menjadi lebih baik serta bijaksana, apabila umat Islam yang dititipkan talenta bermusik oleh Allah swt, hendaknya mereka ini berkarya untuk memerangi (menandingi) karya musik orang-orang Kafir, dan ternyata digemari oleh saudara-saudari muslimnya. Maka berdakwah lewat karya musik dan lagu seperti itu, insya Allah dapat dijadikan sebagai ladang amal dan pahala bagi hamba Allah yang mengerjakannya lillahi ta’ala.

Wallahu a’lam bis-shawab...



Baraqallahu fiekum
Wassalamu’alaykum wr.wb.
~R@iney Dive~

Selasa, 08 Februari 2011

Apakah Seluruh Acara Radio Karya Orang Kafir Adalah Bathil !?

Apakah Seluruh Acara Radio 
Karya Orang Kafir 
Adalah Bathil !? 
Di kutip dari buku "Radio Broadcaster Mukmin
Karya : ©Muhammad Dive™




Bismillaahirrohmaanirrohiim
Assalamu'alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh


Ikhwaanii wa Akhwaati yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta'ala...


Ada sebuah narasi pertanyaan yang menyebutkan, “Apakah seluruh ideasi acara radio yang bersumber dari orang Kafir adalah bathil!?”

Cukup sulit untuk menjawab pertanyaan seperti itu, meski secara umum dapat di jawab; “Bisa ya, bisa tidak.” Ketika jawaban-nya adalah “bisa tidak bathil”, bukan mustahil jawaban ini akan di anggap mencampur-aduk antara haqq dengan bathil.

Sesungguhnya bukan mencampur-aduk antara haqq dengan bathil seperti itu sehingga pengelolaan acara radio menjadi tidak bathil. Sebab haqq tetaplah Haqq, dan bathil adalah Bathil. Meski demikian, insyaAllah terdapat 3 poin ‘hujjah’ yang dapat meluruskan permasalahan ini dengan cara baik dan benar;

  1. Ketika (semisal) acara “Talk Show” radio menawarkan budaya maksiat seperti selingkuh—kumpul kebo—pesta pora—atau berbagai bentuk maksiat lain di udarakan, ternyata semua itu diminati juga oleh mayoritas umat Islam. Lantas dalam hal ini, apakah “Talk Show”  atau budaya maksiat-nya yang harus dimusnahkan (diharamkan)!? Mari kita analogikan “Talk Show” sebagai suatu bangunan rumah, dan budaya maksiat sebagai tembok rumah yang retak. Maka tentu saja kita tidak akan merubuhkan rumah untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Oleh karena itu, jadikanlah “Talk Show” sebagai kendaraan bagi siaran radio  untuk menandingi “Talk Show” sebelumnya. Sebab "Talk Show" insyaAllah akan menjadi halal, apabila ia mengusung perihal baik dan benar, kemudian mengomunikasikannya dengan cara (lebih) profesional—kreatif—serta membahagiakan hati setiap pendengar.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman : “Jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl {16}:126).

  1. Tidak kita pungkiri lagi bahwa segala bentuk ilmu—pengetahuan—adat—budaya—maupun seni, bersumber dari Allah subhanahu wa ta’ala yang menitipkan-nya kepada siapa pun manusia yang dikehendaki-Nya. Dengan demikian ilmu—pengetahuan—adat—budaya—serta seni, insyaAllah baik dan benar adanya jika mereka tidak di salah-gunakan menjadi syirik, atau perbuatan-perbuatan lain yang di benci oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Firman-Nya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat {49}:13).

  1. Islam juga tidak melarang umat-nya berteman—bermasyarakat—serta berniaga dengan orang-orang Kafir, atau untuk perkara ini kita menyebutnya sebagai muamalah (hubungan kemasyarakatan). Adapun batasannya, yakni selama hubungan itu tidak bersinggungan dengan masalah Akidah. Jika mereka ternyata memasuki wilayah Akidah, maka kita berkewajiban menghentikannya dengan cara yang baik dan benar.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman : “Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Allah adalah Mahakuasa, dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena dien dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah {60}:7&8).


Semoga 3 poin ‘hujjah’ ini dapat menjawab pertanyaan di atas, sekaligus menjadikannya sebagai cara bijaksana untuk melakukan revisibilitas terhadap siaran radio yang selama ini kebablasan mencontek ideasi serta kreatifitas orang-orang Kafir, tetapi tidak mempertimbangkannya lagi dengan ketentuan akidah.

Duhai sahabat Broadcaster yang di rahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala,  “Katakanlah: "Inilah jalan dien-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yusuf {12}:108).

Subhanallah, sungguh Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya.


Barakallaahu fiekum,
Wassalamu'alaykum wr.wb.
©Muhammad Dive™

N.O.T.E. :

Nasihat-nasihat seperti di atas, berikut ilmu Allah untuk mempelajari dan menempatkan diri menjadi profesional radio broadcaster mukmin, insyaAllah sedang saya rampungkan ke dalam sebuah buku berjudul "Radio Broadcaster Mukmin".

Semoga barokah dan manfaat...

Senin, 07 Februari 2011

NASIHAT UNTUK SAHABAT R.A.D.I.O.


NASIHAT UNTUK SAHABAT R.A.D.I.O.
Di kutip dari buku "Radio Broadcaster Mukmin"
Karya : ©Muhammad Dive™



Bismillaahirrohmaanirrohiim
Assalamu'alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh


Ikhwaanii wa Akhwaati yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta'ala...

Apabila ada anggapan yang menyatakan kepada dunia radio dan siarannya hanya sekadar media yang memberikan hiburan—informasi—serta promosi, atau siaran radio dikondisikan sebagai bentuk hobi—batu loncatan—bahkan profesionalisme, maka pernyataan dan pengondisian itu tidak salah 100% tetapi berbahaya, jika kenyataannya mereka (malah) bermaksiat kepada Allah lewat anggapan tersebut.

Bukankah kita mengetahui bahwa setiap perbuatan di dunia akan di tuntut pertanggung-jawaban-nya oleh Allah subhanahu wa ta’ala di alam Akhirat nanti!? Lantas apakah dapat dibenarkan jika hiburan—informasi—promosi—hobi—batu loncatan—hingga profesionalisme yang dikerjakan oleh siaran radio mencampur-aduk antara haqq dengan bathil, atau mereka bergembira dalam melakukan berbagai maksiat kepada Allah!? Astaghfirullah wa na’udzubillaah...

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Quran untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.” (QS. Az-Zumar {39}:41).

Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang akan memetik buah amalnya sendiri, atau sebaliknya ia akan celaka karena perbuatan dosa yang dilakukannya.

Duhai diri yang tertipu, hendaknya engkau menyadari betapa setiap pelaku hingga terbentuknya siaran radio, merupakan imam dari para makmum (pendengar-nya). Maka apa jadinya bila siaran radio (imam) senantiasa memperkenalkan—mengomunikasikan—serta mengajak para makmum (pendengar-nya) untuk bermaksiat, sehingga mereka tak ubahnya menjadi seperti orang-orang Kafir yang ingkar kepada Allah dan Rasulullah!?

Ketika pendengar meng-amin-i siaran radio yang menyodorkan tawaran sesat lagi menyesatkan, apakah setiap pihak hanya menanggung dosanya masing-masing saja, atau pengelola siaran radio akan menanggung dosa paling besar!? Begitu juga bagi setiap orang yang bekerja, tentu mereka memperoleh hasil dari pekerjaannya berupa gaji, dan berjumlah banyak-kah, entahlah? Masalahnya, apakah penghasilan orang yang mengerjakan pekerjaan maksiat itu akan barokah, atau ia akan mendapat ridha dari Allah subhanahu wa ta’ala!?

Seandainya saja setiap hamba bersungguh-sungguh kembali kepada hidayah Allah, insyaAllah seluruh pertanyaan di atas akan dijawabnya dengan mudah, berikut revisibilitas-nya yang sesuai dengan Al-Haqq. Simaklah satu ayat Allah yang menegaskan, “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Faathir {35}:6), maka dalil ini tentu akan membuat kita takut melakukan maksiat dan dosa...

Wallahua’lam bish-showab.



Barakallaahu fiekum,
Wassalamu'alaykum wr.wb.
©Muhammad Dive™

N.O.T.E. :

Nasihat-nasihat seperti di atas, berikut ilmu Allah untuk mempelajari dan menempatkan diri menjadi profesional radio broadcaster mukmin, insyaAllah sedang saya rampungkan ke dalam sebuah buku berjudul "Radio Broadcaster Mukmin".

Semoga barokah dan manfaat...